
Yogyakarta — Di tengah hiruk pikuk Pasar Beringharjo, kehidupan buruh gendong dan pengayuh becak sering kali berjalan dalam sunyi. Mereka bekerja keras, namun tidak selalu pulang dengan uang di tangan. Melihat realitas tersebut, BMT Beringharjo, BPD DIY Syariah, Dompet Dhuafa, dan LAZNAS Bakrie Amanah bersinergi menghadirkan program kemanusiaan yang menyentuh langsung kebutuhan mereka: Iqro Club dan Bus Peduli Buruh Gendong.
Kolaborasi empat lembaga ini bukan sekadar bantuan finansial atau program sosial biasa. Ini adalah bentuk nyata kepedulian terhadap mereka yang selama ini menjadi tulang punggung aktivitas pasar, namun kerap luput dari perhatian. Banyak buruh gendong yang dalam sehari mengeluarkan ongkos transportasi Rp20.000, sementara “belum tentu nggendong dan dapat uang.” Dalam kondisi seperti itu, semangat mereka untuk tetap mengaji di sela-sela bekerja menjadi inspirasi yang begitu kuat.

Iqro Club merupakan program yang diinisiasi oleh Baitul Maal BMT Beringharjo yang tergabung LAZNAS Keluarga Utama, sebuah ruang belajar Al-Qur’an yang rutin digelar setiap selesai salat Jumat. Kegiatan ini didampingi ustadz dan ustadzah berpengalaman, dan menjadi tempat para buruh gendong serta pengayuh becak menemukan ketenangan di tengah kerasnya kehidupan. Tidak disangka, program sederhana namun bermakna ini mengetuk hati LAZNAS Bakrie Amanah, yang kemudian memberikan dukungan lebih dari Rp106 juta melalui amanah donatur khusus. “Ini penyaluran sedekah dari donatur yang secara spesifik ingin membantu Iqro Club,” ungkap Ibu Yuli Wulansari dari Bakrie Amanah.
Di sisi lain, beban ongkos harian yang harus dikeluarkan buruh gendong untuk bekerja memunculkan inisiatif baru: Bus Peduli Buruh Gendong. Kehadiran program ini merupakan hasil sinergi antara BMT Beringharjo, BPD DIY Syariah, dan Dompet Dhuafa. Melalui dukungan logistik, pendampingan program, hingga dukungan dana, ketiga lembaga ini bersama-sama memastikan bahwa buruh gendong tidak lagi harus merogoh kocek untuk sekadar bisa berangkat bekerja.


Peluncuran kedua program ini turut mendapat dukungan dari Menteri Koperasi Bapak Ferry Juliantono, Wakil Wali Kota Yogyakarta Bapak Wawan Harmawan, serta beberapa dinas terkait. Kehadiran mereka menjadi bentuk apresiasi dan dukungan moral atas upaya kolaboratif yang lahir dari kepedulian komunitas dan lembaga syariah terhadap kelompok rentan di pasar tradisional.
Sinergi ini membuktikan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah sederhana—langkah yang dilakukan bersama. Dan bagi buruh gendong serta pengayuh becak Beringharjo, Iqro Club dan Bus Peduli bukan hanya bantuan, tetapi harapan baru yang lahir dari tangan-tangan yang peduli.

